Intinya: kesepian pada orang dewasa adalah fenomena massal, bukan kegagalan pribadi. Sekitar 1 dari 6 orang di seluruh dunia terdampak (WHO, 2023), proporsi orang dewasa tanpa teman dekat telah berlipat empat sejak 1990 (Survey Center on American Life), dan dampaknya bagi kesehatan setara dengan kira-kira 15 batang rokok sehari (Surgeon General, 2023). Kabar baiknya: pertemanan mengikuti aturan yang bisa diukur (sekitar 50 jam untuk mendapatkan teman, 200 jam untuk teman dekat, Jeffrey Hall, 2019), jadi ia bisa dipelajari.
Kesepian bukan kekurangan karakter. Itu efek dari sebuah zaman yang membongkar, satu per satu, kondisi yang dulu membuat pertemanan terasa mudah saat kita masih muda: kita bertemu orang-orang yang sama setiap hari, tanpa mengatur apa pun. Kehidupan dewasa (pindahan, jadwal, layar) membuat kedekatan itu lenyap, untuk semua orang sekaligus.
orang di seluruh dunia merasa kesepian, yaitu lebih dari satu miliar manusia.
proporsi orang dewasa tanpa teman dekat kira-kira berlipat empat sejak 1990.
batang rokok sehari: perkiraan dampak kesepian kronis bagi kesehatan.
Apa kata angka-angka itu
Satu dari enam orang di seluruh dunia. Pada 2023, Organisasi Kesehatan Dunia membentuk komisi tentang koneksi sosial dan memperkirakan bahwa sekitar satu dari enam orang terdampak kesepian, di setiap tahap kehidupan. Ini bukan masalah yang khusus menimpa lansia: dewasa muda termasuk yang paling terdampak.
Empat kali lebih banyak orang dewasa tanpa teman dekat dibanding 1990. Menurut data dari Survey Center on American Life yang dianalisis peneliti Daniel Cox, proporsi orang dewasa yang melaporkan tidak punya teman dekat kira-kira berlipat empat dalam satu generasi. Bukan berarti orang-orang jadi "lebih buruk": yang runtuh adalah pijakan sosial untuk semua orang.
Dampak kesehatan yang sebanding dengan merokok. Pada 2023, U.S. Surgeon General menyebut kesepian sebagai epidemi, dengan bersandar pada karya peneliti Julianne Holt-Lunstad: kurangnya koneksi sosial meningkatkan risiko kematian dalam proporsi yang sebanding dengan merokok sekitar lima belas batang rokok sehari. Koneksi bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan vital.
Kenapa lebih sulit saat dewasa
Para peneliti punya nama untuk bahan rahasia pertemanan yang mudah: propinquity, efek dari kedekatan yang sederhana dan berulang. Sebuah studi klasik oleh Leon Festinger (akhir 1940-an) menunjukkan bahwa prediktor terbaik tentang siapa berteman dengan siapa bukanlah kepribadian atau kesamaan minat, melainkan jarak fisik antarpintu. Sekolah dan universitas memberi kita kedekatan itu secara cuma-cuma. Kehidupan dewasa merampasnya, dan pertemanan berhenti menjadi anugerah yang jatuh dari langit lalu menjadi sebuah proyek yang kamu jalankan secara aktif.
Kabar baiknya: kesepian bukanlah takdir
Kalau pertemanan terutama bergantung pada kondisi konkret (waktu, pengulangan), maka ia mengikuti aturan, dan apa pun yang mengikuti aturan bisa dipelajari. Peneliti Jeffrey Hall (University of Kansas) bahkan menaruh angka pada jarak yang harus ditempuh: sekitar 50 jam waktu bersama untuk mendapatkan teman biasa, mendekati 200 jam untuk teman dekat. Pertemanan bukan anugerah yang hanya untuk segelintir orang beruntung: ia adalah jarak yang bisa diukur, dan karena itu bisa diseberangi.
Itulah persis yang dilakukan Metode 200 Jam: program tertulis, sesuai temponya sendiri dan secara pribadi, untuk mengubah waktu yang sudah kamu jalani menjadi jam-jam yang berarti.
Sumber
- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Commission on Social Connection, 2023.
- U.S. Surgeon General (Vivek Murthy), Our Epidemic of Loneliness and Isolation, 2023.
- Julianne Holt-Lunstad dkk., meta-analisis tentang koneksi sosial dan kematian (2010, 2015).
- Daniel A. Cox, Survey Center on American Life (American Perspectives Survey), 2021.
- Leon Festinger, Stanley Schachter & Kurt Back, Social Pressures in Informal Groups, 1950.
- Jeffrey A. Hall, "How many hours does it take to make a friend?", 2019.
Angka-angka publik, dibulatkan agar mudah dibaca; rujuk sumbernya untuk nilai yang persis. Informasi ini untuk tujuan edukasi dan tidak menggantikan saran tenaga kesehatan profesional.