Intinya: Untuk bertemu orang dan menjadikan mereka teman, incarlah tempat di mana kamu bertemu orang yang sama secara teratur, bukan tempat yang mempertemukanmu dengan banyak orang hanya sekali saja. Tempat terbaik bersifat rutin, mengumpulkan kurang lebih wajah yang sama, dan secara alami memberimu bahan obrolan: kelas reguler, klub dan komunitas, kegiatan relawan, olahraga amatir, paduan suara, serta rekan kerja dan tetangga yang sudah sering kamu temui. Pilih satu atau dua tempat ini, kembalilah tiap minggu, dan biarkan keakraban bekerja untukmu bahkan sebelum kamu banyak bicara.
Kebanyakan orang dewasa yang kesepian berkata pada diri sendiri "aku perlu lebih sering keluar". Maka mereka pergi ke pesta besar, acara kumpul-kumpul sepulang kerja, acara networking, melihat ratusan wajah dalam satu malam, dan keesokan harinya: tak ada apa-apa. Masalahnya bukan pada mereka, melainkan pada tempatnya. Memilih tempat yang tepat adalah 80% dari pekerjaannya.
Kriteria nomor 1: frekuensi mengalahkan jumlah
Sebuah pertemanan pertama-tama butuh satu hal: pengulangan, bertemu orang yang sama berulang kali, tanpa harus mengaturnya. Pesta besar adalah kebalikannya: banyak orang, hanya sekali. Sebuah kelas kecil berisi delapan orang yang kamu temui tiap Selasa bernilai seratus kali lipat. Selasa demi Selasa, kamu beralih dari orang asing menjadi "wajah yang kami kenali", lalu menjadi "kami sudah menyisakan tempat untukmu", tanpa satu pun momen keberanian.
Apa yang membuat sebuah tempat baik
Tempat yang baik memenuhi tiga syarat: ia rutin (kamu kembali pada interval teratur, idealnya tiap minggu), ia mengumpulkan kurang lebih orang yang sama tiap kali, dan aktivitasnya sendiri secara alami memberimu bahan obrolan. Ketika sebuah tempat memenuhi ketiganya, pertemanan bisa tumbuh di sana hampir dengan sendirinya. Metode ini memberimu kerangka untuk menilai tiap tempat berdasarkan kriteria tersebut dan menetapkan dua tempat terbaikmu tanpa ragu-ragu.
12 tempat untuk bertemu orang
- Kelas reguler (olahraga, tari, bahasa, menggambar, memasak): tempat ideal, rutin dan dengan topik yang sudah tersedia.
- Teater improvisasi: dirancang untuk mencairkan suasana, bagus bahkan untuk orang pemalu.
- Klub atau komunitas yang berkumpul tiap minggu.
- Kegiatan relawan rutin (pembagian makanan, toko amal, tempat penampungan hewan): hubungan dan makna.
- Liga olahraga amatir (sepak bola, voli, klub lari).
- Paduan suara atau kelompok musik amatir.
- Kelompok mendaki atau jalan kaki.
- Lokakarya menulis atau klub buku.
- Kebun komunitas.
- Ruang coworking kalau kamu bekerja sendiri.
- Para pelanggan tetap kafe yang sama pada jam yang sama, atau gym-mu pada jadwal yang sama.
- Rekan kerja dan tetanggamu yang sudah sering kamu temui: tempat yang paling kurang dimanfaatkan dari semuanya.
Kamu tak perlu mahir dalam aktivitasnya: yang penting kamu terus kembali, tanpa pernah merasa terbebani.
Tempat-tempat yang (sering) tidak efektif
Pesta besar, festival, dan pameran dagang membuatmu bertemu banyak orang sekali: tak ada pengulangan untuk dibangun. Bahkan aplikasi pencari teman pun sering tandus: secangkir kopi dengan orang asing, lalu tak ada apa pun yang terstruktur untuk bertemu lagi. Tiap pertemuan dimulai dari nol. Bukannya tak pernah berhasil, melainkan membuatmu memikul, sendirian, seluruh beban keberlanjutan.
Begitu kamu di sana: intinya
Beberapa minggu pertama, tak ada hal luar biasa yang perlu dilakukan: hadirlah, secara teratur, dan jadilah wajah yang kembali. Keakraban bekerja untukmu bahkan sebelum kamu banyak bicara. Lalu datanglah saat untuk berani melanjutkan sebuah obrolan di luar lingkup kegiatannya, dan di situlah pergeseran dari "kita berpapasan" menjadi "kita berkumpul" terjadi. Metode untuk berteman saat dewasa menjabarkan progres ini langkah demi langkah, dan kalau berbicara menghambatmu, baca cara berteman saat kamu pemalu.